Rabu, 13 November 2013

Kamisan #7 - Melankolia : Tiga Percakapan



1/

selalu, setiap akhir pecakapan kau berkeluh kesah

cinta itu seperti udara, katamu sambil mengusap air mata

bertanya apa rindu melampaui benua, juga waktu dan debudebu

cinta itu seperti udara, katamu sambil menatap mega mendung

membaca arah angin, meramalkan cuaca dan juga nama-nama



di persimpangan, bertemu sepasang tua renta saling bergandengan tangan. Entah siapa dicinta, siapa mencinta, dan kau pun gagal membaca cerita.  Tak menemu jawab.



2/

ada ingatan yang memanggilmu dari segenap arah

cerita demi cerita, setiap potong kisah yang berserak

padahan, dulu saban hari kau memungut kepingan-kepingan itu

cerita carut marut, lalu menguburkannya di sebuah pemakaman. hati mu...

maka kau bilang kenangan itu hantu, aku menepisnya “bukan!”

kenangan itu fiksi!



3/

sekali waktu, di tengah malam buta yang sepi

kau membuka jendela kamar dan melihat dunia; begitu senyap

berandai  sepi itu gaduh, dan mimpi adalah kenyataan



Kau pun tertawa sejadi-jadinya sambil menangisi, “bilamana dunia itu adalah kesalahpahaman, bagaimana jika tawa adalah benar-benar air mata. (*)






13 November 2013 - Bogor, ketika deru hujan adalah teman terbaik mendinginkan kepala 


 (* quote Søren Kierkegaard)








Jumat, 25 Oktober 2013

#kamisan : Perihal Lupa

Belakangan ini, saya sering kali mendadak lupa dengan apa yang hendak saya kerjakan ketika ada sesuatu menyelang kegiatan itu. Dan ini sering terjadi, apalagi di jam kerja. Belakangan juga, saya mendadak suka lupa dengan apa yang akan saya ucapkan ketika berbicara. Bahkan memanggil nama seseorang. Dan parahnya lagi, belakangan ketika menulis pesan singkat di sms, WA, atau dimana pun, salah ketik saya semakin menjadi. Juga mendadak lupa mengeja kata-kata yang hendak saya ketik. Jadi, apa yang salah dengan saya? Apakah ini mengindikasikan suatu penyakit ? Atau ini hanya masalah kebiasaan dan kurang fokusnya saya belakangan ini. Tapi bolehlah semua kejadian lupa ini hanyalah benar-benar masalah kebiasaan. Toh, terkadang kebiasaan ini bisa menjadi alasan pamungkas ketika saya melakukan kesalahan atau keleiruan (dalam hal apapun). Lupa.
Well, tapi menyoal lupa ini saya tak hendak mengeluh dalam tulisan ini. Sungguh, bukan itu. Lupa adalah tema yang diberikan teman-teman #kamisan dalam rangkan belajar rutin menulis bersama. Perihal LUPA, dan saya pun sebetulnya lupa mau menulis apa. Oh, maafkan saya ya kawan. 

Perihal lupa sekali lagi, saya memikirkan beragam hal untuk berunjuk pendapat yang ingin dikemukakan. Tapi pastinya sekali lagi, pun saya harus memilih salah satu dari beragam jenis lupa dan ceritanya. Jangan katakan kalian ingin saya memulai tulisan baru saya ini dengan sebuah cerpen, prosa, atau puisi... Pasalnya saya sudah lupa bagaimana menulis kesemuanya itu. Ya, lupa. Dan bagaimana bisa saya bisa lupa cara menuliskannya? Yah, kalau dijabarkan bolehkan kalian katakan ini akan menjadi tulisan panjang kali lebar mengenai sekian keluhan dan sekian alasan saya untuk berkata “Saya lupa!!” (lupa menulis, lupa mengeja, lupa mengingat, lupa membawa, dan lupa segalanya). Sekali lagi, lupa adalah alasan. (bolehlah disebut pembelaan diri, atau alibi barangkali). Tuh kan, apa saya bilang, sekian paragraf ini pun jadi curhat lagi dan keluhan saya mengenai lupa, padahan saya sudah janji bahwa saya tidak ingin membuat tulisan ini manjadi keluhan semata. Lagi, lagi...saya lupa, dan lagi-lagi, maafkan saya ya kawan.
Spoiler cukup sampai di sini!
***  


Entah kenapa ketika saya memikirkan tentang kata LUPA, di telinga saya malah terngiang-ngiang sebuah lagi yang kerap kali saya dengarkan di radio (sunggu, sebetulnya saya bosan dengan lagu yang bisa 4 kali lebih dalam satu hari saya dengar). 

"lumpuhkan ingatanku hapuskan tentang dia, ku ingin lupakannya"

Dan suara merdu mendayu-dayu dari lagu itu pastinya melenakan banyak orang. Iyap, melenakan dan pastinya banyak orang  menjadikan lagu ini sebagi theme song  patah hati musim ini. Atau malah mungkin membuat seseorang tambah depresi. 

Well, saya pernah berkata pada seseorang kalau bisa saya ingin menghapuskan ingatan saya untuk beberapa hal yang pernah terjadi pada saya. Lalu juga menghapuskan ingatan seseorang, atau beberapa orang, tentang saya dalam hidupnya. Hingga kami semua akan bertemu satu sama lain sebagai orang asing, sebagai orang yang tidak pernah saling menyadari keberadaannya satu sama lain. Tapi teman saya itu berkata "Yakin itu yang kamu inginkan?", lalu kemudian dia mentawakan saya, dan diam-diam dalam hati saya cuma bisa meringis. 

"lumpuhkan ingatanku hapuskan tentang dia, ku ingin lupakannya"

Ada satu pengalaman dalam hidup saya ketika yang namanya ingatan ini sungguh menyiksa. Jam demi jam, detik demi detik, saya bisa tergugu menangis tersedu-sedu dengan hanya punya satu keinginan "lupa". Saya ingin melupakan beberapa bagian terburuk dalam hidup saya, dan berharap bahwa menghapusnya adalah semudah menghapus sebuah catatan dengan membakar bukunya jadi abu, dan kemudian hilang selamanya. Saya merasakan rasa marah, benci, sedih, ketakutan dalam waktu yang bersamaan juga saya merasa saya sudah kalah. Dan satu-satunya yang bisa membantu saya saat itu rasanya hana dengan "lupa" menghapuskan ingatan saya. Atau jika tidak, mungkin membunuh penyebab semua itu akan jadi jawaban. Dan itu mengerikan.

Jadi saat musim patah hati itu, saya memutuskan pulang ke rumah orang tua dengan harapan saya bisa melupakan semuanya. Di rumah kami ada seseorang selain orang tua saya yang cukup special buat saya. Sebutlah namanya Tante Tuti. Tante bukanlah orang yang biasa saja. Dia tanteku, kawan bermainku saat kecil, dan mungkin seseorang yang dilupakan banyak orang, bahwa dia pernah ada. Tante Tuti berbeda dari kebanyakan orang. Tante Tuti mengidap down syndrom atau kita lebih kenal  dengan kata keterbelakangan mental. Belakangan setelah saya berbincang dengan seseorang, ada kemungkinan juga tante menginap Skizofrenia. Tapi sayang sekali, karena keterbatasan ini dan itu, tante tidak bisa mendapatkan perawatan yang layak untuk penyakitnya itu. Maka, sekitar sekian tahun kebelakang ini, tante tidak keluar dari kamar. Hanya tiduran seharian, makanan harus diantar, mandi juga harus dimandikan, dan bahkan (maaf) dia ngompol atau buang air besar di kamarnya sendiri. Padahan, dulu dia tidak begitu. 

Setiap malam ketika orang-prang di rumah kami tidur, dia justru terbangun. Biasanya dia berguman sendiri bicara sendiri bahkan seperti sendang mengobrol dan asik tertawa sendiri dengan obrolan khayalannya. Terkadang, saya berfikir itu bukan khayalan, tapi dia seperti dengan mereka ulang ingatannya tentang orang-orang yang pernah dia kenal. Satu malam bisa saya bilang dia seperti dengan bermain dengan teman masa kecilnya, saya tahu karena dulu dia sering bercerita pada saya, bahwa ada anak lelaki bernama Cun-Cun, yang jadi teman sepermainan dia dan ibuku. Ya, tante sering kali bercerita tentang anak lelaki itu. (mungkin Tante Tuti pernah naksir dia hehehe). Lain waktu, dia sering memanggil-manggil nama ibu saya, kakek dan nenek saya, juga dia seperti sedang menawakan bantuannya seperti dulu, yaitu masak, mencuci, membuat susu atau teh. Dan malam yang lain, ini yang membuat saya sangat sedih, dia sering memanggil-manggil nama saya. Seakan saya ada di ruangan itu dan kami sedang bermain seperti dulu. Berulang-ulang setiap malam itulah yang dia kerjakan. Dia hidup dalam dunia  ingatannya, ya mungkin juga khayalannya, dan dia menciptakan ulang semuanya sendirian di dalam kamar sempit yang ditinggalinya saat ini. Dan mungkin sejak itu saya mulai berfikir, benarkan saya ingin kehilangan ingatan saya?. 

Rasanya menyakitkan ketika saya memikirkan hal tersebut. Saya, yang dalam keadaan sadar ingin melupakan ingatan yang saya punya. Tante, yang hanya punya dunia kecilnya dalam kamar, berusaha mengulang dan mengulang ingatan yang dia punya. Betapa rasanya manusia tanpa ingatan akan lebih menyakitkan bukan?. Mungkin sejak itu saya tidak lagi ingin mengatakan saya ingin lupa ingatan, ingin lupa segalanya. Saya tidak lagi menginginkan amnesia. Oh ya, bukan karena saya merasa tidak adil membandingkan keadaan saya dengan Tante Tuti, tapi justru karena saya ingin belajar dari Tante, bahwa dia mengingat semuanya sementara orang lain mungkin seudah melupakannya. Dan itu menyakitkan, rasanya. Mungkin, Tante Tuti punya kenangan-kenangan yang indah yang dia ciptakan kembali dalam ruang khayalnya, dan mulupakan hal buruk yang pernah dia alami. Walau pun kenangan itu hanya sedikit. Sementara saya, dikaruniai ingatan yang panjang, kenangan yang berlimpah, beragam, dan tidak pernah mensyukurinya dengan berharap ingin Amesia/Lupa Ingatan.
Barangkali saya terlalu sentimentil dengan hal ini, tapi... saya merasa dari sejak inilah saya belajar menghargai apa yang saya miliki dalam ingatan saya. 

***

Lupa, mungkin adalah alasan agar kelak kita tidak disiksa rasa sakit. Tapi mungkin bagi saya, lupa ada adalah perihal memaafkan (diri sendiri) dan melanjutkan hidup.Yeah...melanjutkan hidup dan menciptakan lebih banyak kenangan-kenangan yang baru (yang menyenangkan, maupun tidak). Memang praktiknya tidak semudah yang dibayangkan pada awalnya, tapi setelah mengalami sekian waktu, ingatan-ingatan itu, semakin hari semakin samar. Dan hal yang ingin kita lupakan cukup menjadi fiksi, seperti pernah ada. Sepertu Dejavu.

"lumpuhkan ingatanku hapuskan tentang dia, ku ingin lupakannya"

Tidaaaaaak! saya gak mau ingatan saya lumpuh!


adalah jam, dan detik 
saling bertali memiliki hari 
menyimpan semua memori 
seperti fiksi 

24 Oktober 2013 - @my silence corner



 



























Selasa, 28 Mei 2013

Just some old memory :)

Katakanlah, waktu selalu menjadi alasan untuk segala sesuatu. Katakanlah "Waktulah yang menyembuhkan". 

Beberapa malam lalu saya bermimpi tentang seseorang. Seseorang yang saya kenang dengan baik tentunya. Bukan karena dia seseorang yang pernah dekat dengan saya, ya karena saya percaya dia memang seseorang yang baik, dan kami pernah saling menjaga serta memiliki. 

Oh ya, ini bukan sebuah catatn sentimentil tentang seseorang di masa lalu tentunya, ini hanya sebuah catatan yang saya tujukan pada diri saya sendiri, sebuah peringatan bahwa saya pernah dengan benar menilai seseorang, lalu dengan tindakan yang saya anggap benar, saya melepaskannya dengan alasan yang benar, yang tak perlu saya sesali lagi saat ini. 

Berawal dari mimpi. Ya saya tau mimpi berhak menghidupkan kembali ingatan juga menghidupkan seseorang yang sudah sekian tahun tidak pernah saya temui lagi. Siapa dia? Saya mengenalnya tentu saja. 

Singkat cerita, dia adalah seseorang yang saya tinggalkan karena orang tua saya tidak pernah menyetujui hubungan saya dengan dia. Alasannya sederhana sih, dia tinggal di tempat yang notabene tempat tidak baik, dan dia hanya seorang anak penjual nasi kuning dan memiliki ayah yang juga tidak punya pekerjaan tetap. Saya mengenalnya sebagai salah satu mahasiswa pandai, mempunyai beasiswa, paruh waktu menjadi pekerja catering, paruh waktu menjadi guru les anak-anak SD. Dan dalam kesehariannya dia masih sempat melayani untuk gereja, juga komunitas rohani kampus. 

Apakah pernah ada sesal meninggalkannya? Dulu ya, sekarang tidak. Saya ingat satu saat diakhir semester ketika dia baru saja mengenal saya lebih dekat. Kami berdua pergi ke kampus dan melihat nilai-nilai ujian yang terpampang di dinding kampus. Nilai nya turun drastis dari tahun sebelumnya, sementara nilai saja menanjak drastis setelah ada dia. Suatu kebetulan yang kurang menyenangkan, karena separuh waktu ujian dialah yang mengajari saya setiap mata kuliah yang sulit. 

Saya tidak ingat lagi kenapa lalu setelah itu orang tua saya tidak pernah mau rela menyetujui saya dengan dia. Entah apa, apakah saat itu benar bahwa alasannya hanya sebatas materi ? Mengingat tak lama setelah itu keluarga kami mengalami kesulitan keuangan yang merepotkan dan mungkin keadaan saya dan dia menjadi sama. 

Tapi saya ingat-ingat lagi apa alasan saya meninggalkannya dan berbuat sedikit kejam pada dia? Tidak dipungkiri, saya yang cinta kebebasan dan suka mencari-cari alasan menjadikan orang tua adalah alasan, sementara jauh dalam diri saya, memang saya tertarik pada banyak pengalaman lain, bersama orang lain, dengan gejolak perasaan yang sehabisnya membuat saya hampa. Sesuatu yang semu. 

Ya memang bukan salah dia, bukan. Bukan dia tidak pernah memperjuangkan saya, itu juga salah. Satu hari dia membuka kembali jalan untuk memperbaikinya, tapi saya menolak... Menolak karena saat itu saya masih mau mempertahankan keegoisan saya. Dan bertahun-tahun setelah itu, bahkan sesudah saya menemukan orang lain saya tidak pernah merelakannya. Yup, stupid me. Tidak pernah merelakan kebodohan saya. (iya saya tahu itu kekanak-kanakan). 

*** 

Lalu, seperti kehidupan semua orang. Perjumpaan dan perpisahan terus menjadi bagian hidup kita. Menimbun kenangan lama mengikisnya dan memulai kenangan baru yang menjadikan kita melupakan kenangan lain. 

Jauh setelah saya tidka pernah bertemu dia lagi, saya sudah melupakan kebodohan saya yang lalu. Bukan apa, karena saya sudah membuat kebodohan baru yang tidak bisa saya lupakan pastinya. 

***

Hari ini saya mencoba mengunjungi rumah maya dia, hanya sekedar mengingat dan teringat. Ketika suatu pagi yang mendung radio memutarkan lagu-lagu lama yang yang kebetulan pernah dia rekam umtuk saya. Dan saya bahagia melihatnya. 

Kini dia punya seorang istri dan seorang anak lelaki. :) Dan saya yakin dia adalah kepala keluarga yang baik. Dan saya lega, bahwa saat itu saya tidak terlambat meninggalkan dia. Kenapa? Jika dia terus bersama saya saat itu, saya yakin, dia tidak akan punya cukup waktu (mungkin) untuk membenahi hidupnya dan terganggu oleh keadaan saya, yang terlalu sangat bergantung pada dia. 
Kini saya tahu dia sudah berhasil memperbaiki taraf kehidupan keluarganya. Dan dia sudah bisa mencapai cita-cita melalu kerja kerasnya (ya, saya tahu benar dia seorang pekerja keras). Dan untuk itu saya berbahagia. Tidak ada rasa sakit, tidak ada kecewa, karena saya tahu kehidupan ini selalu punya alasan mempertemukan, lalu memisahkan. 

God bless you, Ko...

ps: saya tahu, bahwa ada sesuatu yang pernah saya percayai itu benar, dan baik. sekalipun kita sudah dilupakan sejak kenangan yang baru telah dimulai :)

Rabu, 17 April 2013

Sebuah Orbituari di Bulan April

.....seperti pada masa-masa itu, ketika semuanya berwarna putih 
tumpang tanganmu, ciuman di kening, dan panggilan kesayangan 
.....seperti pada masa itu, ketika malam-malam yang baru kukenal 
dongeng Ciung Wanara, Cinderella, atau sekedar mitos belaka 
.....seperti pada saat ini,  gambar ku berubah warna, seperti kuning 
menguning, seperti kelabu barangkali, ingatan yang jauh 

: kenangan yang hidup,

*** 

sebelas april sekian tahun lalu... 

Minggu sore, seperti biasa waktunya gereja dan menjalankan kewajiban beribadah. Minggu juga, adalah kebiasaan ku mengunjunginya, atau kami yang saling mengunjungi. Aku tidak membawa oleh-oleh apapun saat itu, hanya membawa beberapa obat-obatan titipan ibu, untuknya. 

Seperti bisa pula kedatanganku selalu disambut dengan hangat. Seketika saja pasti ada sesuatu yang ingin dia suguhkan. Padahan, siapalah aku ini, aku yang begitu dikenalnya dengan baik. Ya, aku , akulah yang dikenalnya sedari nafas pertamaku ada. 

Tapi kali ini kedatanganku tak lama. Hanya menyampaikan titipan ibu. Obat-obatan yang mungkin sedang diperlukannya karena flu. Oh iya, tentu saja saat itu suaranya agak mindeng, mungkin kelelahan. Toh, sekian tahun ini hanya putri keduanya yang hidup bersamanya. Putrinya yang lain, yang memiliki keterbelakangan mental. Sementara kedua anaknya yang lain telah menikah dan memiliki kehidupan sendiri. Padahan, aku ingat, bulan-bulan rumahnya siap dijual, dan dia berharap dapat tinggal dengan salah satu anaknya yang lain. Dia lelah, kurasa. 

Sebelum pulang, pastilah tak lupa dikecupnya keningku. Tapi aku merasa ada yang aneh. Aku melihat dahinya berwarna kebiruan. Dan dia hanya menjawab "oh, tadi tak sengaja kena pompa saat mengambil air". Lalu tiba saja dia mengingat suatu. Hari ulangt tahunku. "Enggak bisa kasih apa-apa, ini saja ada uang jajan ya". katanya. Tentu saja aku sedikit menolaknya. "Jangan, ulang tahunku masih beberapa hari lagi. Pamli nanti kan katanya kalau diberi hadian dan diselamatin sebelum waktunya". Dia lalu menjawab, "Takut nanti hari Rabu gak bisa ke rumah. udah nih, ambil aja. Met ulang tahun, panjang umur, deket jodoh, dan tambah pinter".  Aku menerimanya, lalu pulang. 

*** 

.....sebuah intuisi, katakanlah firasat, atau mimpi. boleh kau percayai atau tidak. suatu malam aku bermimpi semua gigi depanku tanggal. hari lainnya aku melihat seekor keleawar mati di depan halaman, dan lain harinya aku mendengar cericit seekor burung yang katanya pembawa berita duka. boleh percaya, boleh tidak. tapi yang jelas, aku selalu menyukai pertanda, atau hanya sekedar menghubungkan perasaan, dengan tanda-tanda yang mungkin juga kebetulan. tapi adakah yang kebetulan di dunia ini ? 

***

empatbelas april sekian tahun lalu... 

Telepon rumah berdering. Seseorang mengabarkan bahwa sudah tiga hari lampu rumah nya tidak menyala. Minta ijin pada kerabat untuk membuka pintu, dikarenakan tidak ada yang membukakan pintu. Para tetangga kuatir. Beberapa menit kemudian telepon berdering kembali. Dan mereka menemukannya di ranjang, tak sadarkan diri. Tubuhnya dingin dan kaku, juga basah. Anak perempuannya yang terbelakang mental bersembunyi, tak minta pertolongan siapapun. Dan ya, beberapa jam kemudian, dokter sudah memutuskan bahwa tiga pembuluh darahnya pecah, dan dia mengalami koma. Ibuku lunglai mendengarnya. Tentu saja, karena dia adalah ibunya ibuku. Perempuan tua itu nenekku. 

***

enambelas april sekian tahun lalu... 

Menggenggam tangannya di ICCU. Nenek belum juga sadar. Entah perasaan atau itu benar, aku sempat merasa jarinya seperti hendak bergerak. 

***

tujuhbelas april sekian tahun lalu... 

Baru saja aku pulang kerumah sehabis jaga di rumah sakit. Telepon berdering kembali. Dan beliau, sudah pulang. Pulang ke rumahNya. Bertepatan hari kemenangan, kebangkitan, Paskah.

***

Orbituari. 

Pernah ada dalam harapanku, aku bisa membuat beliau bangga dengan mengabulkan beberapa harapannya. Melihatku wisuda, menikah, dan memberinya cicit. Tapi aku, sepertinya tak bisa mengabulkan apa-apa. Kupikir nenek masih sangat kuat. Terbukti bertahun-tahun dia bertahan sendirian mengurus putrinya yang kurang berdaya. Memang beliau  mulai agak pikun, tapi tak pernah lupa hari ulang tahun anak dan cucunya. Nasi kuning, ya nasi kuning, selalu beliau membuatnya untukku setiap empasbelas bulan empat. 

Hei, nek... aku masih ingin bergelantungan di ayunan yang bisa nenek buat untukku sedari kecil. Aku masih ingin, mendengar lagi banyak dongeng dan mitos yang selalu kau ceritakan. Atau, menonton wayang golek sampai larut malam? :) Semisal biasanya aku selalu punya rumah untuk berlari ketika hidupku terasa gelap, sekarang aku hanya punya diriku sendiri menghindari tatapan orang-orang ketika aku bersedih. Tapi itu bukan masalah. Kini, aku seorang yang sudah memulai kembali hidupnya setelah di persimpangan. Oh iya, tentu saja banyak yang nenek lewatkan. Terlalu banyak. kelak pasti, suatu hari kuceritakan bila kita bertemu kembali. Dan pasti, pasti aku berjanji aku akan selalu menjaga ibu. Juga memohon dan berdoa, bahwa kali selanjutnya semoga Dia, memberikan kami banyak waktu, agar aku bisa memberikan banyak hal yang tak pernah bisa aku berikan pada mu, tentu saja. 

Dari ruang ini, aku merindukan masa yang takkan pernah kembali, lagi.

*** 

in memoriam, Lin Siu ling/ Magdalena Yakub 

To Where You Are... 

mencium hujan, adalah bahasa kenangan yang paling menakjubkan.


Bogor, 17042013








Kamis, 05 Juli 2012

merindukan seorang penyeret hijau


Kalau dirimu bukan sesiapa, lantas siapakah kita yang berpapasan di sebuah persimpangan jalan menuju rumah? 

Ada kerikil bergelimpangan seperti mayat, ada batu-batu besar kecil sekakan tak lebih daripada besar kapala yang kita usung kesana kemari.  Mana kepala, mana batu, isi kepalakah yang sudah membatu ribuan hari. Mengeras seperti usia.  Kamu? Aku? Kita? Atau mereka dengan seribu wajah?
Ah, peluk  sajalah dirimu, temukan jalan pulang dan persetan dengan mereka!
***

Tentu, dik.  Adalah kamu, perempuan pejalan yang ditemukan di persimpangan.  Dengan rambut terikat dihiasi pita hijau, membawa senggengam balon warna-warni .  Gelembung udara  yang sudah siap terbang dan lepas kapan saja kau inginkan.
***

Sebuah pembatas buku telah sampai pada halaman kesekian, bab ke-25.  Sementara aku bernyanyi “Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga...”

Dan lillin pun padam... 


PS: Besok aku menunggumu dan sebuah bab baru untuk kau tuliskan.

Happy B’day, Ky...
Cherrs  ^_^

Vespa, 05072012, peluk, tium jauh...

Sabtu, 23 Juni 2012

only time



Who can say where the road goes
Where the day flows
Only time...

Berjalanlah, ke jalanan sepi pinggiran kota. Sekedar menikmati pagi datang sebelum matahari menantang mata-mata yang kian lelah mencari dan mencari. 

And who can say if your love grows
As your heart chose
Only time...
 
Tidak ada hujan, tidak ada embun apalagi kabut. Tidak ada derap langkah kaki, tidak seorang pun.

And who can say why your heart cries
When your love lies
Only time...

Kata hati menumpang lirih pada angin pagi sebelum segala yang manis mengucap salam. Sebelum segala yang pahit meninggalkan kenangan di pangkal lidah. Berjalanlah.

Who can say when the roads meet
That they might be 
In your heart...

waktu, waktu waktu....


And who can say when the day sleeps
If the night
...night keeps all your heart...

Di penghujung jalan, jangan pernah takut bila senjakala datang. Sampaikan salam pada Bumi Tua, "selamat datang kegelapan". Larutlah bersamanya hingga pekat

Who knows? Only time...


lengang....


Who knows? Only time...


Vespa, 23.06.12 , just let me be empty for a moment... 
 

Sabtu, 09 Juni 2012

18.10, catatan

1/
kata orang waktu ini adalah senjakala
yang sesaat, sekejap untuk tersesat

ketika memintas waktu
2/
gerimis mulai berguguran
aku melihatnya dari dalam sekotak kaca

ketika lampu-lampu kota membias, remang
3/
sebentar waktu menyusut
namun aku belum ingin beringsut
selembar catatan menjadi kusut

Senayan, 08 Juni 2012 - 18.10
: Silahkan sesukamu datang, hujan. Di sini ada tempayan-tempayan kosong terbiar di beranda menunggu diisi. Tidak apalah, semisal petir dan angin ribut berderu memanggil seribu rindu yang tersudut oleh waktu. Selamat datang hujan, hujan yang paling tabah. Hujan bulan Juni


Kusampaikan kepadamu sebelumnya, semoga tidak pernah lelah mendengar keluhan dari seorang perempuan, karena aku juga hanya seorang perempuan seperti kebanyakan perempuan yang pernah ada di muka bumi. Ketahuilah, saat kata-kata ini tersurat, kasih sayang dan kesabaranku masih tetap tumbuh selayaknya menimang harapan.

Harapan. Mungkin jika memintamu menggambarkannya, kau akan menggambar harapan seperti lukisan sketsa yang berwarna hitam dan putih. Seperti katamu, kau adalah ada dalam hitam dan putih, atau di antaranya. Di antaranya, ada kita. Tentu saja ada aku, dan kecintaanku pada hijau daun, warna kehidupan. Kehidupan yang belajar kucintai di bawah guyuran hujan.

Klise memang. Menuliskan ini tak pernah berharap kau akan tersentuh. Serangkaian kalimat demi kalimat, yang tidak pernah selesai menjadi mantra memanggil hujan. Tidak juga mendatangkan bahagia, meski aku tidak tahu bahagia itu apa.

Bahagia itu, mungkin ketika aku bisa mencubit perut buncitmu. Ketika aku bisa tidur di sampingmu dan mendengkur. Bahagia itu mungkin, saat aku menawarkanmu segelas air putih saat lelah. Tapi apa bahagia itu?

bahagia itu mungkin, saat aku menerima bisa menerima kenyataan dan bersabar, bahwa menunggu adalah sebuah jawaban. Menunggu, satu saat rahim ku terisi oleh kehidupan.

vespa, 06062012.

jika mencintai adalah kedewasaan, maka dicintai bagiku adalah pengampunan

:(