Selasa, 28 Mei 2013

Just some old memory :)

Katakanlah, waktu selalu menjadi alasan untuk segala sesuatu. Katakanlah "Waktulah yang menyembuhkan". 

Beberapa malam lalu saya bermimpi tentang seseorang. Seseorang yang saya kenang dengan baik tentunya. Bukan karena dia seseorang yang pernah dekat dengan saya, ya karena saya percaya dia memang seseorang yang baik, dan kami pernah saling menjaga serta memiliki. 

Oh ya, ini bukan sebuah catatn sentimentil tentang seseorang di masa lalu tentunya, ini hanya sebuah catatan yang saya tujukan pada diri saya sendiri, sebuah peringatan bahwa saya pernah dengan benar menilai seseorang, lalu dengan tindakan yang saya anggap benar, saya melepaskannya dengan alasan yang benar, yang tak perlu saya sesali lagi saat ini. 

Berawal dari mimpi. Ya saya tau mimpi berhak menghidupkan kembali ingatan juga menghidupkan seseorang yang sudah sekian tahun tidak pernah saya temui lagi. Siapa dia? Saya mengenalnya tentu saja. 

Singkat cerita, dia adalah seseorang yang saya tinggalkan karena orang tua saya tidak pernah menyetujui hubungan saya dengan dia. Alasannya sederhana sih, dia tinggal di tempat yang notabene tempat tidak baik, dan dia hanya seorang anak penjual nasi kuning dan memiliki ayah yang juga tidak punya pekerjaan tetap. Saya mengenalnya sebagai salah satu mahasiswa pandai, mempunyai beasiswa, paruh waktu menjadi pekerja catering, paruh waktu menjadi guru les anak-anak SD. Dan dalam kesehariannya dia masih sempat melayani untuk gereja, juga komunitas rohani kampus. 

Apakah pernah ada sesal meninggalkannya? Dulu ya, sekarang tidak. Saya ingat satu saat diakhir semester ketika dia baru saja mengenal saya lebih dekat. Kami berdua pergi ke kampus dan melihat nilai-nilai ujian yang terpampang di dinding kampus. Nilai nya turun drastis dari tahun sebelumnya, sementara nilai saja menanjak drastis setelah ada dia. Suatu kebetulan yang kurang menyenangkan, karena separuh waktu ujian dialah yang mengajari saya setiap mata kuliah yang sulit. 

Saya tidak ingat lagi kenapa lalu setelah itu orang tua saya tidak pernah mau rela menyetujui saya dengan dia. Entah apa, apakah saat itu benar bahwa alasannya hanya sebatas materi ? Mengingat tak lama setelah itu keluarga kami mengalami kesulitan keuangan yang merepotkan dan mungkin keadaan saya dan dia menjadi sama. 

Tapi saya ingat-ingat lagi apa alasan saya meninggalkannya dan berbuat sedikit kejam pada dia? Tidak dipungkiri, saya yang cinta kebebasan dan suka mencari-cari alasan menjadikan orang tua adalah alasan, sementara jauh dalam diri saya, memang saya tertarik pada banyak pengalaman lain, bersama orang lain, dengan gejolak perasaan yang sehabisnya membuat saya hampa. Sesuatu yang semu. 

Ya memang bukan salah dia, bukan. Bukan dia tidak pernah memperjuangkan saya, itu juga salah. Satu hari dia membuka kembali jalan untuk memperbaikinya, tapi saya menolak... Menolak karena saat itu saya masih mau mempertahankan keegoisan saya. Dan bertahun-tahun setelah itu, bahkan sesudah saya menemukan orang lain saya tidak pernah merelakannya. Yup, stupid me. Tidak pernah merelakan kebodohan saya. (iya saya tahu itu kekanak-kanakan). 

*** 

Lalu, seperti kehidupan semua orang. Perjumpaan dan perpisahan terus menjadi bagian hidup kita. Menimbun kenangan lama mengikisnya dan memulai kenangan baru yang menjadikan kita melupakan kenangan lain. 

Jauh setelah saya tidka pernah bertemu dia lagi, saya sudah melupakan kebodohan saya yang lalu. Bukan apa, karena saya sudah membuat kebodohan baru yang tidak bisa saya lupakan pastinya. 

***

Hari ini saya mencoba mengunjungi rumah maya dia, hanya sekedar mengingat dan teringat. Ketika suatu pagi yang mendung radio memutarkan lagu-lagu lama yang yang kebetulan pernah dia rekam umtuk saya. Dan saya bahagia melihatnya. 

Kini dia punya seorang istri dan seorang anak lelaki. :) Dan saya yakin dia adalah kepala keluarga yang baik. Dan saya lega, bahwa saat itu saya tidak terlambat meninggalkan dia. Kenapa? Jika dia terus bersama saya saat itu, saya yakin, dia tidak akan punya cukup waktu (mungkin) untuk membenahi hidupnya dan terganggu oleh keadaan saya, yang terlalu sangat bergantung pada dia. 
Kini saya tahu dia sudah berhasil memperbaiki taraf kehidupan keluarganya. Dan dia sudah bisa mencapai cita-cita melalu kerja kerasnya (ya, saya tahu benar dia seorang pekerja keras). Dan untuk itu saya berbahagia. Tidak ada rasa sakit, tidak ada kecewa, karena saya tahu kehidupan ini selalu punya alasan mempertemukan, lalu memisahkan. 

God bless you, Ko...

ps: saya tahu, bahwa ada sesuatu yang pernah saya percayai itu benar, dan baik. sekalipun kita sudah dilupakan sejak kenangan yang baru telah dimulai :)

Rabu, 17 April 2013

Sebuah Orbituari di Bulan April

.....seperti pada masa-masa itu, ketika semuanya berwarna putih 
tumpang tanganmu, ciuman di kening, dan panggilan kesayangan 
.....seperti pada masa itu, ketika malam-malam yang baru kukenal 
dongeng Ciung Wanara, Cinderella, atau sekedar mitos belaka 
.....seperti pada saat ini,  gambar ku berubah warna, seperti kuning 
menguning, seperti kelabu barangkali, ingatan yang jauh 

: kenangan yang hidup,

*** 

sebelas april sekian tahun lalu... 

Minggu sore, seperti biasa waktunya gereja dan menjalankan kewajiban beribadah. Minggu juga, adalah kebiasaan ku mengunjunginya, atau kami yang saling mengunjungi. Aku tidak membawa oleh-oleh apapun saat itu, hanya membawa beberapa obat-obatan titipan ibu, untuknya. 

Seperti bisa pula kedatanganku selalu disambut dengan hangat. Seketika saja pasti ada sesuatu yang ingin dia suguhkan. Padahan, siapalah aku ini, aku yang begitu dikenalnya dengan baik. Ya, aku , akulah yang dikenalnya sedari nafas pertamaku ada. 

Tapi kali ini kedatanganku tak lama. Hanya menyampaikan titipan ibu. Obat-obatan yang mungkin sedang diperlukannya karena flu. Oh iya, tentu saja saat itu suaranya agak mindeng, mungkin kelelahan. Toh, sekian tahun ini hanya putri keduanya yang hidup bersamanya. Putrinya yang lain, yang memiliki keterbelakangan mental. Sementara kedua anaknya yang lain telah menikah dan memiliki kehidupan sendiri. Padahan, aku ingat, bulan-bulan rumahnya siap dijual, dan dia berharap dapat tinggal dengan salah satu anaknya yang lain. Dia lelah, kurasa. 

Sebelum pulang, pastilah tak lupa dikecupnya keningku. Tapi aku merasa ada yang aneh. Aku melihat dahinya berwarna kebiruan. Dan dia hanya menjawab "oh, tadi tak sengaja kena pompa saat mengambil air". Lalu tiba saja dia mengingat suatu. Hari ulangt tahunku. "Enggak bisa kasih apa-apa, ini saja ada uang jajan ya". katanya. Tentu saja aku sedikit menolaknya. "Jangan, ulang tahunku masih beberapa hari lagi. Pamli nanti kan katanya kalau diberi hadian dan diselamatin sebelum waktunya". Dia lalu menjawab, "Takut nanti hari Rabu gak bisa ke rumah. udah nih, ambil aja. Met ulang tahun, panjang umur, deket jodoh, dan tambah pinter".  Aku menerimanya, lalu pulang. 

*** 

.....sebuah intuisi, katakanlah firasat, atau mimpi. boleh kau percayai atau tidak. suatu malam aku bermimpi semua gigi depanku tanggal. hari lainnya aku melihat seekor keleawar mati di depan halaman, dan lain harinya aku mendengar cericit seekor burung yang katanya pembawa berita duka. boleh percaya, boleh tidak. tapi yang jelas, aku selalu menyukai pertanda, atau hanya sekedar menghubungkan perasaan, dengan tanda-tanda yang mungkin juga kebetulan. tapi adakah yang kebetulan di dunia ini ? 

***

empatbelas april sekian tahun lalu... 

Telepon rumah berdering. Seseorang mengabarkan bahwa sudah tiga hari lampu rumah nya tidak menyala. Minta ijin pada kerabat untuk membuka pintu, dikarenakan tidak ada yang membukakan pintu. Para tetangga kuatir. Beberapa menit kemudian telepon berdering kembali. Dan mereka menemukannya di ranjang, tak sadarkan diri. Tubuhnya dingin dan kaku, juga basah. Anak perempuannya yang terbelakang mental bersembunyi, tak minta pertolongan siapapun. Dan ya, beberapa jam kemudian, dokter sudah memutuskan bahwa tiga pembuluh darahnya pecah, dan dia mengalami koma. Ibuku lunglai mendengarnya. Tentu saja, karena dia adalah ibunya ibuku. Perempuan tua itu nenekku. 

***

enambelas april sekian tahun lalu... 

Menggenggam tangannya di ICCU. Nenek belum juga sadar. Entah perasaan atau itu benar, aku sempat merasa jarinya seperti hendak bergerak. 

***

tujuhbelas april sekian tahun lalu... 

Baru saja aku pulang kerumah sehabis jaga di rumah sakit. Telepon berdering kembali. Dan beliau, sudah pulang. Pulang ke rumahNya. Bertepatan hari kemenangan, kebangkitan, Paskah.

***

Orbituari. 

Pernah ada dalam harapanku, aku bisa membuat beliau bangga dengan mengabulkan beberapa harapannya. Melihatku wisuda, menikah, dan memberinya cicit. Tapi aku, sepertinya tak bisa mengabulkan apa-apa. Kupikir nenek masih sangat kuat. Terbukti bertahun-tahun dia bertahan sendirian mengurus putrinya yang kurang berdaya. Memang beliau  mulai agak pikun, tapi tak pernah lupa hari ulang tahun anak dan cucunya. Nasi kuning, ya nasi kuning, selalu beliau membuatnya untukku setiap empasbelas bulan empat. 

Hei, nek... aku masih ingin bergelantungan di ayunan yang bisa nenek buat untukku sedari kecil. Aku masih ingin, mendengar lagi banyak dongeng dan mitos yang selalu kau ceritakan. Atau, menonton wayang golek sampai larut malam? :) Semisal biasanya aku selalu punya rumah untuk berlari ketika hidupku terasa gelap, sekarang aku hanya punya diriku sendiri menghindari tatapan orang-orang ketika aku bersedih. Tapi itu bukan masalah. Kini, aku seorang yang sudah memulai kembali hidupnya setelah di persimpangan. Oh iya, tentu saja banyak yang nenek lewatkan. Terlalu banyak. kelak pasti, suatu hari kuceritakan bila kita bertemu kembali. Dan pasti, pasti aku berjanji aku akan selalu menjaga ibu. Juga memohon dan berdoa, bahwa kali selanjutnya semoga Dia, memberikan kami banyak waktu, agar aku bisa memberikan banyak hal yang tak pernah bisa aku berikan pada mu, tentu saja. 

Dari ruang ini, aku merindukan masa yang takkan pernah kembali, lagi.

*** 

in memoriam, Lin Siu ling/ Magdalena Yakub 

To Where You Are... 

mencium hujan, adalah bahasa kenangan yang paling menakjubkan.


Bogor, 17042013








Kamis, 05 Juli 2012

merindukan seorang penyeret hijau


Kalau dirimu bukan sesiapa, lantas siapakah kita yang berpapasan di sebuah persimpangan jalan menuju rumah? 

Ada kerikil bergelimpangan seperti mayat, ada batu-batu besar kecil sekakan tak lebih daripada besar kapala yang kita usung kesana kemari.  Mana kepala, mana batu, isi kepalakah yang sudah membatu ribuan hari. Mengeras seperti usia.  Kamu? Aku? Kita? Atau mereka dengan seribu wajah?
Ah, peluk  sajalah dirimu, temukan jalan pulang dan persetan dengan mereka!
***

Tentu, dik.  Adalah kamu, perempuan pejalan yang ditemukan di persimpangan.  Dengan rambut terikat dihiasi pita hijau, membawa senggengam balon warna-warni .  Gelembung udara  yang sudah siap terbang dan lepas kapan saja kau inginkan.
***

Sebuah pembatas buku telah sampai pada halaman kesekian, bab ke-25.  Sementara aku bernyanyi “Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga...”

Dan lillin pun padam... 


PS: Besok aku menunggumu dan sebuah bab baru untuk kau tuliskan.

Happy B’day, Ky...
Cherrs  ^_^

Vespa, 05072012, peluk, tium jauh...

Sabtu, 23 Juni 2012

only time



Who can say where the road goes
Where the day flows
Only time...

Berjalanlah, ke jalanan sepi pinggiran kota. Sekedar menikmati pagi datang sebelum matahari menantang mata-mata yang kian lelah mencari dan mencari. 

And who can say if your love grows
As your heart chose
Only time...
 
Tidak ada hujan, tidak ada embun apalagi kabut. Tidak ada derap langkah kaki, tidak seorang pun.

And who can say why your heart cries
When your love lies
Only time...

Kata hati menumpang lirih pada angin pagi sebelum segala yang manis mengucap salam. Sebelum segala yang pahit meninggalkan kenangan di pangkal lidah. Berjalanlah.

Who can say when the roads meet
That they might be 
In your heart...

waktu, waktu waktu....


And who can say when the day sleeps
If the night
...night keeps all your heart...

Di penghujung jalan, jangan pernah takut bila senjakala datang. Sampaikan salam pada Bumi Tua, "selamat datang kegelapan". Larutlah bersamanya hingga pekat

Who knows? Only time...


lengang....


Who knows? Only time...


Vespa, 23.06.12 , just let me be empty for a moment... 
 

Sabtu, 09 Juni 2012

18.10, catatan

1/
kata orang waktu ini adalah senjakala
yang sesaat, sekejap untuk tersesat

ketika memintas waktu
2/
gerimis mulai berguguran
aku melihatnya dari dalam sekotak kaca

ketika lampu-lampu kota membias, remang
3/
sebentar waktu menyusut
namun aku belum ingin beringsut
selembar catatan menjadi kusut

Senayan, 08 Juni 2012 - 18.10
: Silahkan sesukamu datang, hujan. Di sini ada tempayan-tempayan kosong terbiar di beranda menunggu diisi. Tidak apalah, semisal petir dan angin ribut berderu memanggil seribu rindu yang tersudut oleh waktu. Selamat datang hujan, hujan yang paling tabah. Hujan bulan Juni


Kusampaikan kepadamu sebelumnya, semoga tidak pernah lelah mendengar keluhan dari seorang perempuan, karena aku juga hanya seorang perempuan seperti kebanyakan perempuan yang pernah ada di muka bumi. Ketahuilah, saat kata-kata ini tersurat, kasih sayang dan kesabaranku masih tetap tumbuh selayaknya menimang harapan.

Harapan. Mungkin jika memintamu menggambarkannya, kau akan menggambar harapan seperti lukisan sketsa yang berwarna hitam dan putih. Seperti katamu, kau adalah ada dalam hitam dan putih, atau di antaranya. Di antaranya, ada kita. Tentu saja ada aku, dan kecintaanku pada hijau daun, warna kehidupan. Kehidupan yang belajar kucintai di bawah guyuran hujan.

Klise memang. Menuliskan ini tak pernah berharap kau akan tersentuh. Serangkaian kalimat demi kalimat, yang tidak pernah selesai menjadi mantra memanggil hujan. Tidak juga mendatangkan bahagia, meski aku tidak tahu bahagia itu apa.

Bahagia itu, mungkin ketika aku bisa mencubit perut buncitmu. Ketika aku bisa tidur di sampingmu dan mendengkur. Bahagia itu mungkin, saat aku menawarkanmu segelas air putih saat lelah. Tapi apa bahagia itu?

bahagia itu mungkin, saat aku menerima bisa menerima kenyataan dan bersabar, bahwa menunggu adalah sebuah jawaban. Menunggu, satu saat rahim ku terisi oleh kehidupan.

vespa, 06062012.

jika mencintai adalah kedewasaan, maka dicintai bagiku adalah pengampunan

:(

Sabtu, 21 April 2012

(4/30) Hanya Beberapa Catatan kecil

: pagi tadi 

yang kuingat, ada bayangbayang serupa sabit masih menggantung
ketika hari masih sedikit prematur untuk segera bergegas
dua pasang kaki berjalan beriringan, saat sebelum saling mengucap salam
“sampai jumpa lagi, sayang”
#balada senin pagi#

16042012

: siang tadi
sedikit cerita, sekumpulan kata-kata berseliweran melewati benda-benda mati. seperti hantu-hantu gentayangan melenggang dengan mata nyalang mencari dan mendapati sesuatu untuk dihantui.

#sesekali manusia lupa, telah menjadi hantu bagi sesamanya#

17042012

sedikit cerita, terkadang ada berapa dari mereka serupa burung gagak. memungut bangkai kata-kata. memakannya dan belajar kenyang cukup dari bangkai. sesekali juga mereka menyamar menyerupai merpati. mendapatkan kawanan teman. Lalu siapakah mereka itu? mungkin seseorang, mungkin sekawanan mencari kebutuhannya. untuk dapat terbang lebih tinggi.

(padahal kita tahu tidak semua burung dapat terbang, bukan begitu?)

18042012

weekend time :)

Terimakasih pada apapun dan siapapun yang membuat hari libur ini ada. Dan terimakasih pada apapun dan siapapun yang menjadikan hari kerja berlalu dengan cepatnya.
Kurang lebih satu bulan aku merasa seperti sebuah gelas yang terus menurus diisi air hingga luber. Kenapa? Jika semua ini hanya karena pekerjaan, sepertinya terlalu klise. Pekerjaan, sebuah kewajiban dan kebutuhan. Terkadang saya ingin sekali membencinya, karena pekerjaan ini membuat saya kehilangan banyak waktu untuk hal-hal yang saya sukai. Memisahkan saya dengan orang-orang terkasih, padahan pekerjaan saya kali ini pun hasil keputusan dari sebuah pilihan. Saya punya tujuan.

Berangkat pagi ketika matahari baru muncul, pulang larut ketika matahari sudah tenggelam dan hari sudah benarbenar gelap. Jarak yang lumayan, kepadatan jalanan dan juga antrian-antrian yang cukup brutal. Semuanya menjadikan semua ini seperti sesuatu yang ingin saya benci. Benar, sikap seperti itu membuat saya merasa seperti orang yang tak tahu diuntung. Jika pekerjaan di kota ini adalah ada dan untuk saya jalani, seharusnya saya mensyukurinya. Karenanya ada untuk membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada.

Saya berfikir, kenapa saya harus mengeluh seperti ini. Seorang teman pernah berkata, kamu kerjanya cuma teriak report? report!. Oh ya begitu ya, persetan dengan pendapatmu tentang aku yang mengeluh. Tahu apa jika keseharianmu hanya menjaga sesuatu sambil birchit chat kesana kemari dan sinis. Lagi-lagi dia bilang, kamu mengeluh melulu. Oh ya kawan, saya juga manusia biasa.
Tapi sekali lagi, saya berfikir. Semua baik adanya. Baik jika saya memiliki semua ini untuk saya jalani dan pahami. Untuk terus mengingatkan bahwa saya masih manusiawi dan masih jauh lebih beruntung ketimbang orang-orang diluar sana yang tidak seberuntung saya. Walau, rasanya jahat jika saya harus merasa lebih beruntung ketika memikirkan dan membandingkan diri saya sendiri dengan mereka yang kurang beruntung. Apa semua ini adil?

Ini hari libur. Setelah semalam entah kerasukan setan apa saya merasa benar-benar lelah dan ingin muntah. Saya ingin mengutuki semua hal yang membuat saya lelah. Tapi saat seperti itu, selalu terbersit “apakah kamu sudah melakukan semuanya dengan sepenuh hati, dengan segenap kemampuan, dan menggunakan seluruh waktumu dengan bijak?”. Saya mengalah akhirnya dalam rasa lelah dan ngantuk, lalu memlilih tidur dengan harapan bangun di pagi hari dan melupakan rasa lelah.
saya lelah, lelah, lelah.

Tapi, semuanya terobati di hari libur. terimakasih pada penanggalan dan kebijakan perusahaan yang membuat hari ini waktunya istirahat. Saya telah melupakan rasa lelah, marah dan kesal. Karena hari libur telah membuat saya mengerti bahwa hari kerja sama berartinya dengan hari libur.
Happy Weekend, waktunya juga saya menunggu si pacar datang. Dan kami akan berkencan semalaman. Terimaksih.
vespa, 21.04.2012

Senin, 16 April 2012

Senin pagi berada di kantor lebih awal dengan perasaan “yeah…all is well”. Menjadi sedikit tua rasanya tidak terlalu buruk, meskipun itu tandanya jatah umurku di bumi  juga berkurang.

Senin pagi, saya berusaha tidak membenci perpisahaan sementara dengan si pacar. Rasanya memang sedikit menyika harus berjauhan dengannya selama hari kerja. Tapi, bukan hal yang harus menjadi keluhan. Perasaan melampaui jarak.

Senin pagi, secangkir kopi dan kue bolu pisang. Padanan manis serta sedikit pahit. Mungkin seperti itulah 30 tahun hidup yang dijalani.

Minggu, 08 April 2012

(3/30) April Pada Suatu Pagi


Suara tonggeret, saban hari kapan waktu 
bersembunyi di rerimbun pohon 
cerita beranda 

sekian waktu, mengemas hati dalam tas kepergian 
Meninggalkan rasa dalam lipatan-lipatan baju di lemari. 
terselip diantaranya. buku-buku tertinggal, kisahkisah terlupa 
siapa yang tau... 

Lampu-lampu dipadamkan 
kita berkemas, sebentar bergegas 
pintu terkunci 

 
di pekarangan, daundaun melambai 
                                                                                                       08042012 - beranda rumah, april suatu pagi

Jumat, 06 April 2012

(2/30) hujan di awal musim

hujan awal musim, menyisakan genangan. sesaat menatapnya, tersesat sekelibat lalu menghempaskan wajahwajah kenangan yang tak tentu. mungkin hantuhantu bangkit dari ingatan. tak tentu kita ingat, atau kita pernah saling mengenal.

pada akhirnya, kita bukan sesiapa dan tidak pernah saling memiliki apaapa (lagi)

musim selalu datang, tapi satu kedipan mata musim juga tidak mengulang sejarah yang sama. tak pernah terbaca, mungkin hanya sesuatu yg akan kita ketahui, kelak, kemudian. lalu usai
dan hidup terus berlanjut, hingga pada satu saat...
kemudian, kelak
terhenti
dengan sendirinya 

Bandung, 06 April 2012 - 16.11

Rabu, 04 April 2012

(1/30) selamat datang musim

:kepada april

musim mengajakku menghidu tanah basah
sehabis hujan pertama, ketika hari dimulai
menarik batas ingatan yang bukan kenangan
hanya peringatan
bahwa petualangan masih menunggu
"aku masih ada, di sini"

01042012 - vespa

Rabu, 14 Maret 2012

Berawal dari tugas tulis menulis yang (sedang) akan dilanjutkan lagi. Ini kesepakatan antara saya, dan beberapa teman saya yang ceritanya kami ingin saling mendukung untuk tetap membiasakan diri menulis (ketimbang kami hanya meringis mengapa tulisan kami sering dibajak orang). Setelah menetapkan untuk melanjutkan tema-tema dari berbagai sumber, 30 days me of me, akhirnya kamipun menyadari, kami...tetap jalan ditembat dan bergumul dengan dangan alasan ini dan itu (baca:tidak juga mmulai nulis dan juga tidak mematuhi tema). Kasarnya, menurutku kami hanya mencari alasan bagaimana untuk tidak memakasakan diri kami untuk membisakan diri dengan yang namanya me-nu-lis. Apa susahnya sih? Cuap-cuap, entah curhat nyampah ataupun menumpahkan isi pikiran kami kurasa tak ada yang salah. Kenapa tiba saja kami, saya juga begitu takut bahwa tulisan kami seperti curhat seperti diary. Well, kupikir bukankah di antara banyak fiksi yang bertebaran, pasti ada selipan di dalamnya adalah pengalaman pribadi si penulis itu sendiri. Sebagai contoh, Mark Twain mengatakan dalam bukunya The Adventure of Tom Sawyer, beberapa karakter memang diambil dari pengalaman nyata kisah tiga orang bocah, tapi toh kita tidak tahu kan, mana yang benar-benar terjadi dalam kenyataannya? (lagi-lagi, saya sedang membela diri karena saya hanya sedang (ingin) curhat. Singkat kata, saya rasa ini hanya masalah ke-ma-la-san, entah gengsi, dan entah juga enggan beranjak dari kemalasan. Hey, berapa lama kita semua ingin jadi kepompong? 

 Kita tidak sedang bicara ingin menjadi penulis terkenal. Tidak juga bicara tentang gengsi atau apapun dalam menulis. Saya bicara tentang bagaimana kita bisa menikmati hobby membaca dan menulis, juga bicara tentang keinginan beberapa teman untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik. Bagaimana kita tahu kita cukup baik, atau cukup buruk jika kita tidak pernah lagi mencoba menulisakn sesuatu dan membaginya pada orang lain. Tak usah bicara tentang khalayak ramai yang bisa membaca tulisan kita, tapi saya pribadi ingin bicara soal berbagi. Sekitar 2 tahun yang lalu saya menemukan seorang blogger, Ndoro Kakung yang beberapa kali menuliskan di blognya, menulis adalah soal berbagi. Hingga kini dia tetap konsisten menulis, membagikan tulisan-tulisannya di beberapa blog. Puisi-puisim serta cerpan bahkan mini novelnya dapat kita download dengan gratis. Hingga kini, dia dikenal sebagai blogger senior yang isi blognya orisinil, juga seorang pengamat lingkungan sekitar. Kalau saya pikir lagi, sepertinya orang ini begitu menikmati apapun yang dia tulis. Tidak ada salahnya bukan, semangat menulis Ndoro Kakung ini menjadi panutan bagi kita yang suka cuap-cuap dalam bentuk tulisan? Kemarin hari saya membaca status Facebook salah satu sahabat saya (kembar dempet saya), yang intinya mungkin benar orang tua melarang kita menulis karena menulis hanya membawa kita semakin melankolik. Bisa jadi saya setuju dengan pendapat ini, karena saya juga dibesarkan dengan pandangan orang tua seperti itu. Buat apa menulis yang diary, puisi, cerpen? Buat apa membaca begitu banyak komik, buku-buku fiksi? Tidak ada gunanya, lebih baik belajar yang benar, itu menurut orang tua saya. Dilihat dari beberapa kenyataannya, ya mungkin saja tidak ada gunanya,hanya menambah saya si melankolis ini semakin terpuruk dengan dunia dan perasaannya (juga pikirannya yang mendadak bisa jadi gaduh, riuh, boleh juga dikatakan tersesat). 

 Tapi kembali lagi, saya juga ingin melihat kenyataan dari sisi lain. Dari sudut pandang yang lain yang pernah saya tahu dan pernah saya alami sendiri. Menulis, tidak selalu seperti itu. Boleh jadi otak saya hanya bisa menampung hal-hal sederhana yang tidak rumit, tapi saya percaya menulis ini juga ada banyak gunanya, tanpa kita sadari. Ketika saya patah hati dan todak bisa menceritakan kesedihan saya pada orang lain maka saya melarikan diri pada puisi, yah lebay sih...serasa jadi makhluk pencinta luka, rindu, dan segala yang sendu. Singkat cerita, saya si Melankolic Dramatic Queen. Tapi sesudahnya saya selalu merasa lega, dan setetlah beberapa lama ketika saya mengunjungi tulisna itu saya akan terkejut dibuatnya. Betapa ada satu perubahan yang saya alami selama ini, bukan perubahan kecil. Tapi sebuah perubahan besar. Dan saya berterimakasih untuk tulisan itu, karenanya saya bisa bercermin dari tulisan sendiri. Menulis untuk menyembuhkan. Setelah saya membaca status teman saya itu saya berfikir, tidak juga ingin membenarkannya tapi juga tidak ingin membenarkannya. Kurasa, membenarkannya adalah salah satu jalan untuk jauh mengasihani diri sendiri. Bahwa saya melankolis dan begitu perasa karena manulis berlembar puisi, karena saya terpuruk dan mengiyakan hidup dalam dunia sinetron yang di jual seperti kacang goreng di layar televisi. Tidak, saya tidak ingin seperti itu. Saya ingin membantahnya dengan sebuah alasan, bahwa menulis adalah keinginan saya, bagian dari hidup saya yang tidak ingin saya bantah. Tidak ingin juga menjadi kecil karenanya, atau berharap terlalu besar karenanya. Tapi menulis adalah diri saya sendiri yang layak saya pertahankan, karena menulis bagi saya adalah sebuah cermin. Tanpa menulispun perasaan bisa jadi menggila, dan sebuah rasa melankolis bisa jadi melankolia. Apa bedanya kalau begitu. Bukan kita yang dikendalikan oleh perasaan, tapi kitalah pemilik perasaan itu. Kendalikanlah. (Sejujur-jujurnya, saya sendiri belum bisa pandai mengendalikan perasaan dan pikiran sialan itu dengan baik, selalu butuh waktu yang agak lama untuk menenangkan diri saya kembali). 

Seperti kata Stephen King “The scariest moment is always just before you start.” Mungkin itu juga yang terjadi pada saya berkali-kali. Hingga saya sendiri tidak bisa mengeluarkan apapun yang ada dalam pikiran saya dalam bentul tulisan. Takut saya terlihat bodoh, takut saya terlihat tidak pandai dan nyampah, takut saya tidak bisa menyampaik suatu maksud dengan baik, takut ini, takut itu lalu berubah manjadi saya enggan, saya malas, dan saya tidak bisa apa-apa. Tentu saja, semua ini salah. Tapi saya belum ingin kalah...

Rabu, 07 Maret 2012

memulai lagi

Sudah sekian lama ternyata susah sekali mencari waktu (dan mengalahkan kemalasan) untuk kembali cuap-cuap di blog. Seperti yang sudah-sudah, sering kali saya menterlantarkan blog saya sampai banyak sarang laba-labanya. Dengan berat hati, ada beberapa blog yang saya buat akhirnya ditutup.

Tapi stop, sekarang bukan waktunya curhat colongan mengapa saya begitu lama hibernasi jadi kempompong dan tidak menghasilkan satu produktivitas apapun dalam menulis (sekalipun itu menulis curhatan (lagi2). Sesuai kesepakatan, saya dan beberapa orang teman punya niat untuk membuat kembali project kami yang sempat tertunda. Menulis selama 30 hari dengan topik dan tema yang sudah disediakan. Bagi saya ini sebuah tantangan kembali. Bukan tantangan untuk unjuk kebolehan, karena jujur saja merasa tak punya modal special dalam cuap-cuap (selain modal bawel).

Ada alasan lain kenapa mendadak saya ingin menulis lagi. Yang jelas, ada rasa rindu untuk menulis setelah saya hibernasi panjang. Seperti ada kebutuhan untuk menyampaikan "sesuatu" dengan kata-kata. Dan yang terakhir, saya sebetulnya cukup eneg dengan pembajakan tulisan yang akhir-akhir ini semakin merajarela. Tidak hanya tulisan artikel, cerpen, dan puisi, curhat juga bisa jadi di copypaste orang dengan mudah (dan tanpa merasa berdosa). Itu terjadi pada saya, setelah beberapa postingan di blog saya yang lama mengalami nasib pindah ke blog tetangga tak dikenal. Jika mereka saja semangat ngubek-ngubek postingan orang lain yang pas dengan isi hati dan pikiran mereka, mengapa saya tidak bisa membuat sebuah postingan (setidaknya) orisinil hasil cuap-cuap saya sendiri (bagus, tidak bagus...well, sepertinya itu masalah kerajinan, ketelatenan dan kemauan. ya kan ?).

JAdi, hari pertama ini tentunya menghasilkan sesuatu kan? ya, saya menulis, meski cuma cuap-cuap (mesi saya mengerjakannya sambil OOT dan main game) setidaknya saya mencoba memaksa pikiran dan jari saya ini kembali berolah raga. Semoga kali ini saya tidak mangkir, semoga kali ini saya bisa menyelesaikannya dengan baik (itu artinya saya harus perang habis-habisan dengan rasa malas, cape dan ngantuk).

Semoga berhasil. mari menulis

Minggu, 22 Januari 2012

cuhat, cuma curhat

Sepertinya terlalu meninggalkan curhat-curhatan (sekaligus sampah, yang juga curhat), lama meninggalkan tulis menulis (yg selalu saya kangenin), lama meninggalkan perpuisian, sajak liris, maupun mencoba bersikeras menulis. hell ya, kata sahabat saya mungkin jaman emasnya sudah lewat. Kita kehilangan produktivitas ide dan juga penurunan kemauan (kerja keras berfikir dan menulis(.

Tapi apa saya benar-benar berhenti bekerja keras dan berfikir? Entahlah. Ini sudah tiga bulan lebih sejak kepindahan saya ke ibu kota (yang bagi saya dulu seperti gudang ide, ruang kemandirian dan kesendirian, yang seharusnya menghasilkan banyak lagi ide, cerita dan pemikiran). Berangkat dengan tekad semangat 45 (juga disertai pergumulan kuat) akhirnya saya sampai di sini.

Tiga bulan, kehilangan banyak waktu mencurahkan apapun di blog, di forum komunitas menulis dan juga dimana-mana. Ada apa? apa karena saya pemalas? pemalas yang paling ruwet sendiri setelah tertekan ingin menulis lalu menyerah?. Yaaa...apapun itu, bolehkan saya beralasan, berdalih mengapa 3 bulan ini saya tidak menulis apapun. (kecuali status fesbuk, kecuali curhat colongan singkat sekenanya. tak lupa, keluhan dan keluhan). Yeah, aku tidak tahu.

Kehilangan waktu? tentu saja. tenaga dan pikiran apalagi. MEncoba membagi waktu untuk banyak hal itu tidak mudah. Padahal, janji saya pada diri sendiri setelah kepindahan saya ke Jakarta kali ini adalah, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam hal apapun, termasuk pacaran. ^_^

1,5 jam perjalanan pergi dan pulang kerja itu ternyata melelahkan> Itu dihitung dari waktu minimal. Sesekali harus menghabiskan waktu sampai 2,5 jam (artinya bisa sampai saya sehari mondar mandir ke kampung halaman). Melelahkan, makan waktu, dan makan kaki saya. Hasilnya kram sering melanda di kaki sebelah kanan. (jangan salahkan jarak ataupun karena pegangan tangan di busway terlalu tinggi. jangan uga salahkan jarak. Salahnya mungkin saya memang kelebihan berat badan. Alhasil, kaki saya benar2 sakit harus menyangga berat tubuh saya)

1 bulan sekali pulang ke kampung halamanpun menjadi kesulitan tersendiri bagi saya. Lagi-lagi, itu karena malas. Dengan alasan kuat, 2 hari weekend saya hanya ingin mengistirahatkan kaki saya.Meski masih ada alasan sebenarnya mengapa saya tidak pulang-pulang ke rumah kedua orang tua saya.Perihal itu lain kali saya ceritakan.

Hal lain yang membuat saya berhenti tulis menulis ini adalah kejenuhan. Jenuh dengan puisi lebay, jenuh melihat status2 puisi yang menurut saya terlalu cari perhatian. Jenuh juga, karena saya mulai kehilangan tujuan dari menulis. Pasalnya, saya lebih suda memasak seporsi ikan sarden, mie instant ataupun goreng telur. Pasalnya, ini karena saya sedang balas dendam memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan banyak hal dengan si kambing jantan saya (di baca: pacar).

Singkat cerita (karena saya ngantuk dan harus kembali mengerjakan tugas kantor besok pagi di kosan), saya mendadak punya istilah sibuk pada akhirnya. Sibuk menjalankan banyak hal yang sampai saat ini masih saya nikmati, meski harus membuat saya, merindu tidak jelas pada celoteh di ruang tulisan



(ini beneran curhat gak jelas saat ngantuk dan batuk)

Senin, 04 Juli 2011

To Where You Are

: sayur kangkung

Semangkuk sayur kangkung, nasi panas dan lauk babi kecap. Itulah menu yang paling sering dibuat oleh seseorang yang belasan tahun ini selalu saya rindukan keberadaannya. Lelaki sederhana, tidak fasih berbahasa Indonesia namun lebih terbiasa berbahasa sunda, atau berbahasa hokian.

(membayangkan, jika saya tak mengenal dia, maka saya mungkin tidak pernah merasakan jadi tuan putri kecil yang manja. membayangkan, jika saya tiba-tiba kehilangan ingatan, amnesia maka saya akan kehilangan masa-masa yang menurut saya begitu tulus, hangat dan penuh bahasa  kesederhanaan. sigh...terkadang saya tidak ingin menjadi orang dewasa.)

Saya rindu senyum dan wajah keriputnya, jenggot serta bau rokok kreteknya. saya rindu, dia menggandeng saya untuk sekedar pergi ke warung dekat rumah, dan saya di perbolehkan membeli apapun disana sampai puas.

Saya rindu, seseorang yang sering menemani saya tidur, ketika kedua orang tua saya bekerja di shift malam. Dan saya rindu seseorang yang tidak pernah sama sekali memarahi saya, namun selalu menitipkan pesan seperti ini "Neng, sing rajin sekolah. sekolah itu penting. Jangan seperti Akung yang buta huruf dan tak bisa membaca. Neng, jadilah orang jujur, karena orang jujur tidak pernah kekurangan rejeki"

Saya rindu, seseorang yang selalu mengantarkan saya pergi sekolah minggu, menunggu saya pulang dan mengantarkan saya kembali ke rumah (hal ini, yang tidak pernah sama sekali dilakukan ayah kandung saya)

Saya rindu, seseorang yang kerap kali menunggu di gerbang sekolah, hanya untuk memberikan saya uang saku untuk jajan (uangnya bisa saya tabung buat beli komik). Atau sekedar mencari saya dari balik gerbang halaman sekolah, membelikan saya semangkuk bakso dan es jeruk.

Saya rindu, dengan seseorang yang mengajarkan saya makan roti dengan mencelupkannya kedalam susu hangat. Dan kami menikmati itu berdua. Tapi yang paling saya rindukan adalah pak tua yang sering masak sayur kangkung sepulang kerja.

-Juli 1995-

Satu pagi dia mengantaku ke sekolah, saat masa orientasi masuk SMP. Karena dilarang diantar sampai gerbang sekolah maka saya minta di turunkan jauh-jauh. Jalanan masih sangat sepi, kita-kita masih jam 5 pagi, dan saya berjalan sendiri menuju gerbang sekolah. Setengah jalan, saya mencoba menengok kebelakang, dan dia masih mengikuti saya dari jauh dengan motor BMW (bebek merah warnanya). Ada rasa tenang sekaligus pedih yang tidak bisa saya jelaskan kenapa. Saya pikir, ini hanya perasaan takut anak manja yang sedang masuk lingkungan baru dan masa ospek. Sebelum masuk gerbang, saya masih melihat dia dan melambaikan tangannya kearah saya. Seumur saya mengenalnya, dia tak pernah melambaikan tangan seperti itu.

***

Kesokan malamnya. Di atas meja dapur ada talenan yang diatasnya ada irisan bawang putih dan bawang merah. Ada kangkung yang sudah di petik di cuci, dan ada nasi yang telah dimasak. Ada daging babi yang sudah di potong, sebotol kecap dan semuanya siap sudah untuk dimasak. Yang tak ada hanya pak tua yang saya rindukan itu. Tidak, bukan dia tidak ada, tapi dia telah tertidur pulas untuk selamanya dan tak sempat memasak sayur kangkung dan babi kecap untuk terkahir kalinya. Pak tua pergi, ya pergi sebelum dia menyelesaikan makan malamnya.

***

: epitaf

pak tua, kau tau...rumah yang tak pernah mampu untuk kau beli itu telah menjadi milikmu setelah kepergianmu. si pemilik rumah, memberikanya sebagai tanda terimakasih atas nama pengabdian dan kejujuran. tapi saat ini rumah itu tak lagi jadi milik kami sejak kekasihmu juga pergi meninggalkan kami. mungkin dia pergi ketempat dimana kau ada saat ini.

pak tua, aku rindu bising suara bebek merah warnanya itu, yang selalu mogok tapi kau tak pernah mau menggantinya dengan yang lain. itulah kesetiaan yang kau ceritakan? tentang benang merah yang menyatukan kita satu sama lain dalam satu ikatan.

pak tua, aku rindu tangan kasarmu, bau oli dan bau seragam montirmu  yang berwarna biru.

dan sayur kangkung....

***

Saya ingat, setiap bulan dia selalu membayar satu iuran dari perkumpulan keluaga marga Bun, iuran itu untuk biaya pemakaman saat kita meninggal. Di hari dia dia dikuburkan, segala sesuatunya terlah tersedia, karena dia sudah mempersiapkannya sejak lama. Di hari penguburan, dia yang tidak banyak bicara dan seperti tak punya relasi malah diantar ke pekuburan dengan arak-arakan yang panjang. Semua orang mengenangnya sebagai pekerja keras jujur, dan selalu membantu orang lain tanpa meminta imbalan sedikitpun. Dia yang tidak pernah bisa berbicara manis tapi selalu meninggalkan sesuatu yang manis bagi orang-orang disekitarnya.  

in memoriam, my beloved grandfather Joni Yakub.


Who can say for certain
Maybe you’re still here
I feel you all around me
Your memories so clear

Deep in the stillness
I can hear you speak
You’re still an inspiration
Can it be (? )
That you are mine
Forever love
And you are watching over me from up above

Fly me up to where you are
Beyond the distant star
I wish upon tonight
To see you smile
If only for awhile to know you’re there
A breath away’s not far
To where you are

Are you gently sleeping
Here inside my dream
And isn’t faith believing
All power can’t be seen

As my heart holds you
Just one beat away
I cherish all you gave me everyday
’cause you are mine
Forever love
Watching me from up above

And I believe
That angels breathe
And that love will live on and never leave

Fly me up
To where you are
Beyond the distant star
I wish upon tonight
To see you smile
If only for awhile
To know you’re there
A breath away’s not far
To where you are

I know you’re there
A breath away’s not far
To where you are

Sabtu, 02 Juli 2011

day 04 - a song that makes you sad

: Firasat, Perasaan, dan Kenyataan

Entah kenapa saya harus mengakui kalau saya seseorang yang percaya pada firasat akan terjadi sesuatu. Padahan terkadang saya tau itu hanya perasaan berlebih saat kita sedang mengalami masa pe em es yang menyebalkan itu, atau juga hanya segerombolan ketakutan dan kegelisahan yang kurang berlalasan. Catatan, saya adalah seorang perempuan yang melankolis, sedikit sentimentil dan moody (tak lupa, ceroboh serta selalu gegabah bertindak sesuatu. Sangat jauh dari tipikal perempuan ayu, manis, dan feminim). 

Tapi pengalaman mengatakan, saya pernah mengalami beberapa firasat entah baik atau buruk dan itu terbukti terjadi (seringnya buruk). Contoh, kepergian kakek dan nenek saya beberapa tahun lalu masih melekat dalam bayangan saya. Bagaimana tidak, setelah saya pikir dan mereka-reka apa yang terjadi sebelum mereka meninggal, rasanya itu sudah seperti sebuah pertanda. Entah ini kebetulan atau memang ini biasa terjadi ketika seseorang yang sangat dekat dengan kita akan pergi meninggalkan kita selamanya. Lain kali mungkin saya ceritakan bagaimana rentetan peristiwa dan firasat itu. 

Iseng-iseng tadi saya mencari tahu padanan kata firasat. Dari mulai, bisikan hati, fenomena, gejala, gelagat, intuisi, isyarat, perasaan (hati), pertanda, petunjuk, sinyal, suara hati, tanda. Menemukan kata intuisi saya jadi ingat postingan seorang teman beberapa hari lalu, tentang intuisi, tentang firasat. Kami sempat berbincang soal itu dan sama-sama percaya bahwa firasat terkadang bukan hanya perasaan semata. (walau mungkin bagi sebagian orang, yang namanya firasat mungkin kebetulan mungkin juga hanya sebuah perasaan yang berlebihan. Entahlah, saya juga tidak paham betul karena bukan pakarnya tapi saya meyakini itu ada. Intuisi, ya... akhirnya saya mencoba membuka kamus untuk menmukan arti kata dari intuisi, dan artinya adalah : daya atau kemampuan mengetahui atau mema-hami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati. Well, aku rasa dengan penjelasan seperti ini, setiap orang pastinya punya intuisi sendiri terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya, ataupun yang terjadi pada dirinya sendiri. Pertanyaanku adalah, bagaimana menjamkan intuisi itu, dan membedakannya dengan sekedar perasaan atau kegelisahan yang berlebih? 

Ya, kadang saya pun menganggap sesuatu seperti firasat, tapi setelah ditelaah lebih lanjut mungkin itu hanya rasa kwatir yang berlebih, prasangka yang berlebih dan perasaan yang terlalu dibawa melow berlebih. Atau boleh dikatakan saat kita pernah mengalami kejadian buruk maka kita akan lebih parno ketimbang sebelumnya terhadap hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita (konteksnya adalah saya). Mungkin benar saat beberapa waktu lalu pacar saya bilang, pikiran saya itu saking gaduhnya menulispun jadi sangat ribet dan menuliskan sesuatu dengan kalimat yang berbelit-belit. Dan hasil dari pikiran yang teramat gaduh itu adalah ketakutan saya sendiri akan hal yang sebenarnya tidak terjadi atau belum tentu terjadi. (ini bagian bodohnya saya, menterjemahkan kehati-hatian, belajar dari pengalaman tanpa memikirkan hak tersebut secara logis dan pikiran yang jernih).

Seperti beberapa waktu lalu, saya suka panik sendiri ketika handphone seseorang mati, atau mendadak dia tak punya kabar selama seharian (dan padahan saya hanya mencari sedikit darinya tanda bahwa dia baik-baik saja itu cukup). Kalau saya boleh beralasan kenapa ketakutan seperti itu ada, mungkin itu karena pengalaman saya sebelumnya, kehilangan atau ditinggalkan seseorang dengan cara tanpa pamit tanpa sepatah kata apapun. Dari jauh dia cukup mengganti nomer hapenya, dan "pufff" hilang semua jejaknya. Dan itu menyakitkan, bukan?



Itulah sebebnya saya berfikir saya harus pandai-pandai memilah mana itu intuisi, mana itu hanya perasaan yang berlebih. Jika tidak mungkin saya akan hidup dengan prasangka dan ketakutan-ketakutan tidak beralasan. Mungkin salah satunya yang kemarin saya pelajari dari temen saya adalah dengan mensugesti diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Bagiku, mungkin ketakutan adalah penghalang kita untuk menjadi lebih baik, ketakutan dan trauma hanya akan menyiksa diri saya dan selanjutnya saya hanya akan menjadi seseorang yang pincang dan tidak total melakukan apapun. Jika kita sudah melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, dan memberikan semua yang terbaik, maka sisanya hanyalah kepasrahan mengikuti alur yang sudah disediakan oleh hidup (tepatnya, Tuhan lebih tahu tentang sebuah akhir). Que sera sera...yang harus terjadi terjadilah sekalipun itu menyakitkan 

mendung berkisah 
bersilang di jemari langit
pertanda, terjadilah...

*postingan satu lagu ini sepertinya akan jadi dua lagu, hehehe....inilah tanda2 orang gak fokus



Minggu, 26 Juni 2011

Di balik Sajak Menjelang Tidur

(Masih hari kedua mengerjakan proyek menulis 30 hari, dan ternyata lagi-lagi harus keluar jalur dari tema yang sudah ditetapkan setiap harinya. Apa artinya inilah si "aku" yang ternyata susah untuk mengerjakan sesuatu sesuai aturan dan prosedur, alias susah untuk diatur? heheh)

Sejujurnya, aku belum pernah meresensi atau membuat review untuk sebuah buku, film atau juga puisi orang lain. jadi dalam postingan ini jangan berharap juga menemukan sesuatu yang "wah" atau sesuatu yang tajam, atau cerdas. Karena dalam postingan ini aku hanya ingin bercerita tentang buku yang kubaca sampai lebih dari tiga kali. (buku inipun sampai keriting, saking seringnya saya baca sebelum tidur)

Ada sebuah buku kumpulan puisi yang sejak tahun 2008 selalu aku baca berulang. Ini buku puisi yang pertama aku beli sejak aku mulai jatuh cinta pada puisi dan tertarik untuk menulis puisi (ya, curhat dengan puisi tepatnya). Buku ini adalah kumpulan buku puisi Wendoko yang judulnya Sajak-Sajak Menjelang Tidur. Mungkin beberapa kali aku menulis puisi terisnpirasi setelah membaca salah satu karyanya dalam buku ini. 

Yang menarik dalam buku ini adalah ada beberapa  puisi yang berlatar belakang budaya Tiongkok. Puisi-puisinya menurutku sedehana, tidak sulit dicerna, tidak berakrobat kata, dan seperti menyiratkan bayangan cerita serta. Satu lagi, nostalgis. Sangat cocok untuk jadi bacaan sebelum tidur. (inilah keanehan, aku menyukai jenis2 puisi seperti ini, tapi puisiku sendiri jauh dari tipikal puisi dengan citraan terang dan simpel seperti yang ada dalam buku ini). Ada banyak puisi yang aku suka dalam buku ini, tapi rata-rata agak panjang. Aku coba tulisakan beberapa yang tidak terlalu panjang. 

Dongeng Sebelum Tidur (06) 
: untuk Li Fu Yen

"Tiap malam, sebelum kabut turun dan bulan bulat sempurna, dewa langit (yang entah siapa namanya, tapi kata orang dia bertubuh kecil, berwajah tua - lengkap degan jenggot yang putih dan  berpakaian lusuh) datang ke bumi. Lalu, sebelum lewat subuh dan embun laksana butiran yu di daun-daun, ia mencari kanak-kanak (lelaki dan perempuan) yang baru dilahirkan, lalu mengikat kaki mereka dengan benang sutra merah. Sejak itu mereka adalah Kekasih Surgawi - yang saat bertemu, akhirnya menyatu. Kdang datang lelaki atau perempuan lain (katakanlah orang ketiga) yang membuat benang sutra merah bergetar, hingga kanak-kanak itupun mati rela" 
     "......Lalu, kenapa kau coba membunuhku empat belas tahun yang lalu?" 


St, Klara. Autumn 1986 (6th poscard)

Malam, adalah kota belantara warna hitam dengan kedipan lampu-lampu. Tak ada langit, dan dari jendela apartement - setelah seharian memandang trotoar yang sibuk, gedung bertingkat, dan bangunan berkotak-kotak - kulihat jalanan lengang di bawah lampu-lampu. Ada bintik-bintik cahaya berwarna merah dari gedung-gedung yang tak tampak - sebentar memendar sebentar padam - tapi kelihatan buram di jendela sehabis hujan. Lalu petak-petak cahaya di kaca-kaca, neon tube di menara-menara....Sementara di luar apartement, ada yang bersenandung It's a Wonderful World, dan suara tiktok suara jam berdetak memadati ruangan.
*** 

Sebetulnya barusan sebelum (dan sambil) membuat postingan ini aku sempat membolak balik kembali halaman-halaman pada buku ini, jadi teringat dan berfikir tentang perbincangan dengan beberapa teman mengenai puisi, haiku, haibun dan teori show dont't tell. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan teori itu dengan benar seperti apa (dengan bahasaku yang tak seberapa ini akan jadi ribet), tapi mungkin selama ini buku yang sudah lebih dari 10 kali aku baca ini seharusnya membuatku paham dan memberikan banyak contoh apa itu teori "show don't tell". Sepertinya harus kubaca lagi - untuk kesekian kali.

day 03 - I knew I loved you before I met you

 a song that makes you happy 

(sebelumnya , maap aku melewatkan postingan lagu untuk hari ke dua yak, binun mau kasih lagu apa. Jadi untuk menghemat waktu suapa yang mikir lama-lama aku nulis ja dari bahan hari ketiga hehehe) 

Kalau bicara tentang lagu yang bisa membuat gembira, tentu saja banyak lagu yang bisa membuat moodku jadi baik. Tapi baiklah, sore hari yang panas ini (serta membuatku ngantuk), hanya terfikirkan satu lagu yang bisa membuatku gembira. Tentu saja ini faktor subjektif karena dipengaruhi oleh suasana hati dan kondisi. Lagi-lagi (maaf) postingan ini akan berbau  c-ie-n-tea (bukan roman picisan, tapi mungkin sedikit lebay atau mungkin gombal, tapi begitulah adanya hidup tanpa tetek bengek cinta seperti minum jus tanpa gula *maksa*)

I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

Yup, lirik diatas adalah lagu lawasnya Savage Garden. Memang, liriknya agak sedikit gombal (menurutku), cocok untuk diberikan kepada seseorang yang sedang jatuh cinta atau dalam  masa pe-de-ka-te. Tapi mungkin bagiku ini kesepakatan theme song romansa kali ini. *jangan di bahas lebih lanjut hehe*

I knew I loved you before I met you?

Apa sih yang tidak mungkin di jaman seperti ini, ketika internet jadi alat pelipat jarak dan memungkinkan kita berkomunikai dengan orang yang jauhnya ribuan kilometer dari tempat tinggal kita. Apalagi dengan adanya komunitas online atau jejaring sosial seperti fesbuk membuat kita mudah berkenalan dengan orang baru yang sebelumnya sama sekali belum pernah terbayangkan (hmm..yang ini pengalaman pribadi). Dan begitu juga dengan jatuh cinta, yap jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah kita temui sebelumnya secara nyata. 

Apa kalian percaya bisa jatuh cinta dengan cara sepeti itu?  

(aku percaya.... ^_^)

Maybe it's intuition
But some things you just don't question
Like in your eyes
I see my future in an instant
And there it goes
I think I've found my best friend
I know that it might sound more than a little crazy
But I believe

I knew I loved you before I met you

I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

There's just no rhyme or reason

Only this sense of completion
And in your eyes
I see the missing pieces
I'm searching for
I think I've found my way home

I know that it might sound more than a little crazy

But I believe

I knew I loved you before I met you

I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

A thousand angels
dance around you
I am complete now that I've found you

I knew I loved you before I met you

I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life



day 01 - Hanya Sebuah Surat

: efw

Hei, rasanya baru berapa bulan sejak pertemuan kita terakhir tapi aku rasanya sudah tidak melihatmu selama bertahun-tahun. Mungkin dalam bayang benakku, aku masih merindukanmu sebagai sosok seorang gadis cantik berusia 17 tahun, yang pernah mengajarkan ku tentang senyum.

"Ri, sering-sering senyum deh. Kamu tuh manis kalo senyum, semua orang pasti menyukai senyummu "

bergandeng tangan
saling melempar pandang
sahabat cerlang

Barangkali sejak itu aku perbubah dari seorang gadis pemalu, minderan sulit bergaul berubah menjadi seseorang yang lebih percaya diri dan mudah bersosialisasi setelah bertemu denganmu. Entah itu karena senyum itu, atau kamu yang selalu membawaku kesana kemari dalam setiap aktivitas sekolah. Tapi kurasa, akulah yang selalu mendapatkan keberuntungan perhatian karena aku berteman dengan salah satu murid yang paling disukai di sekolah. Bagiku, kamu memliki segala hal yang tidak aku punya dan tentunya. Dulu aku selalu berfikir bahwa kamu akan mendapatkan kehidupan yang cerah (jika dibandingkan denganku)

Tapi mungkin begitulah roda kehidupan. Di pertemuan kita yang terakhir, aku tak lagi menemukan sahabatku yang cemerlang itu. Kamu, dan segudang pilihan hidupmu yang tidak aku mengerti. Kamu masih sama cantik, senyummu masih sama seperti dulu tapi satu hal yang berbeda, yaitu senyummu semua seakan berat. Maaf kukatakan ini dengan sejujurnya, aku terlalu sedih memikirkan sabahabtku yang kini lebih mirip seorang manipulator cerita seperti yang ada di sinetron-sinetron itu. Hei, kamu takkan selamanya bisa berdiri diatas dua sampan, ketika satu kebohongan hanya menciptakan drama kebohongan lain,  hanya akan membuat mu karam diantara keduanya.

Tidakkah kamu mensyukuri kesabaran seorang lelaki yang di depan altar telah menetapkan hatinya dengan ikrar sehidup semati, tidakkah kamu mensyukuri seorang boceh lelaki yang begitu lucu dan memiliki senyum yang sama manis dengan dirimu? Tapi mengapa sekarang kamu memilih mendua hati hanya untuk mempertahankan cinta lama, dengan alasan keadaan dan keterpaksaan? Hidup ini memang sudah seperti sebuah drama bukan, kurasa kita tak pernu menambahkan ceritanya hingga menjadi begitu dramatis.
Pertanyaanku, sampai kapan kamu akan begini?

"Aku sudah tidak tahu mana yang benar mana yang salah, hidupku sepertinya saat ini ada di titik paling rendah". (sepertinya ini jawabanmu yang paling sederhana dari serentetan cerita, juga pembelaan diri. ) 

Tapi baiklah, sepertinya aku memang tak bleh menghakimi semua tindakanmu lebih jauh. Dilihat dari sudut manapun, aku juga saat ini tidak memiliki catatan sejarah kehidupan yang lebih baik darimu. Mungkin, perbedaan utamanya adalah saat ini aku sudah berhenti dari semua petualangan (gila) dan memilih menjalani kehidupan ini dengan mengikuti alurnya. Bagaimana denganmu?

almanak lebur
mengendap busuk
ampas hati

Berharap suatu hari, kau menemukan suratku ini. Dan berharap saat itu kamu sudah bisa menentukan dimana kakimu akan berpijak. Berharap kamu juga menyingkirkan segala ketakutanmu untuk keluar dari "zona nyaman" yang selalu kita bicarakan berulang-ulang. Dan saat itu, aku berharap kembali menemukan sesuatu yang kurindukan dari dirimu, yaitu senyum (tanpa kepalsuan).


ps : i miss you, dear...gw berharap Is keluar dari lingkaran setan itu!