Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2011

Gamang

ada tubuh dengan gamang di bayangnya, mencari setitik cerah dari tempat di mana pernah ada sebuah risalah. setiap saat baginya adalah peluh, adalah lenguh yang mengabarkan betapa jauhnya semua yang ia cintai. seperti mengibu pada air susu perempuan yang menamainya anugrah, seperti merindu pada lanskap langit dan semilir angin dari tanah seberang.

17.04.2011 

ps : beib, setiap kita pasti belajar menjadi seseorang yang lebih baik, to be a better man.

Senin, 11 April 2011

Pemimpi

 : Lamhot Susanti Saragih

Adalah hati yang membujuk rupa kenangan pada silam. Ia berjalan seakan merepih segala yang tercecer di bilangan masa. Sesekali ia memincingkan mata dan berkata dengan notasi yang paling sinis  

"ah sudahlah, getar-getar itu hanya ilusi dan keterasingan yang tak dapat dipercaya. Kita tersesat dan aku yang terlalu bodoh"

Tapi ketahuilah, dalam diam yang indah ia mengumpulkan remahremah rindu yang begitu manis. Selaksa keinginan mengecup kening malam dalam impian, sebelum jam berdentang duabelas kali dan menutup lembar hari.

adalah hati, seorang putri pemimpi

reenworld, 30.03.2011

Melankolia Rindu : Sentimental Sesaat

Ku biarkan ini menjadi sesuatu yang sentimental. Liris jatuh di antara derik hujan yang baru saja turun ketika malam membuka sebuah episode usang. Masih kita memainkan lakon yang itu-itu juga, dengan rasa yang datang dan pergi. Meski, tak pernah sama persis lagi kehadirannya.

Sesuatu yang tak lekang, meski waktu itu kaku. Perputaran yang tak pernah mundur namun berhak penuh untuk berlari dan mendahului sebelum kita berteriak "jangan!".

Adalah nilai kenyataan yang terlupa, terhanyut, dan terlena. Saat kita menikmati secangkir kopi pahit di antara carut yang bersahaja, antara larut dan terjaga. Semisal rasa khilaf, tak lagi layak untuk disucikan oleh seisi jagad.

O, mengertilah aku mendamba kesekian rasa sakit yang pernah menjadikan aku tempias bayang. Untuk sekedar mengenang, menjadikan malam ini lebih panjang dan membiarkan sentimental ini tinggal sedikit lebih lama - lalu hilang saat pagi terlambat datang.

19.03.2011

Nada Kehidupan

lalu inikah kehidupan itu?

Ketika sang surya menorehkan gurat kuning keemasan seperti sebuah siluet di sebidang cakrawala; ketika langit hanya menyisakan sedikit ruang untuk pendar cahaya menembus gumpalan-gumpalan awan yang berarak; ketika angin berbisik mengajak rumput dan ilalang berdendang menari bersama nada paling hening - mengantar sejauh tatap mata berbatas pandang.

Ketika berhadapan dengan laut yang begitu tenang, ombak berdesir perlahan menepi menghapus jejak-jejak pasir yang tertinggal. Ketika seseorang duduk terhanyut dalam lamunan, hanya ditemani seekor kawan yang paling setia, tanpa percakapan, cukup saling memahami.

Ketika setelahnya hanya akan ada kekosongan saat sosok itu pergi dan berlalu, menjadikan waktu sebuah rekaman hitam putih dalam alunan orkestra alam paling indah – simfoni ingatan, juga rindu.

hei, barangkali inilah kehidupan itu

13.03.2011

(ode) Pejalan Malam

: reza
Malammalam romansa itu saling berkejar, susul menyusul pada mungkin yang entah bagaimana kau menamainya. Selaksa kepingan rindu, esensi yang sama masih begitu melekat dengan aroma kecintaanmu pada hitam. Berapa lama lagi, berapa jarak dan usia tempuh sebuah perjalanan? 

“aku, masih bernafas” jawabmu, selalu dengan nada yang paling sederhana 

Sesaat lalu kau melirihkan hangat dian mentari yang masih saling melambai bersama musim duka kitab abadi. Belum juga usai kau membacanya

“tentu saja, harum ingatan dan tempias gerimis itu berbeda, seperti bumi enggan menistakan cinta kasih pada Sang Malam” katamu.


 27.02.2011